MENGGANTI SISTEM UJIAN NASIONAL

Mengganti Sistem Ujian Nasional

Oleh: Aswandi

Sandiaga Salahuddin Uno selaku Calon Wakil Presiden RI saat debat menyampaikan pendapatnya bahwa jika terpilih menjadi wakil presiden RI, maka ia mengganti sistem ujian nasional. Sejak pemikiran tersebut disampaikan menyita perhatian masyarakat secara luas, ada yang mendukung, ada yang menolak, dan ada pula yang masih memerlukan diskusi, tentu saja masing-masing punya alasan.

Apapun istilah lain yang digunakan, ujian adalah subsistem dari sebuah sistem pendidikan dan pembelajaran sehingga keberadaaan ujian tetap diperlukan, bahkan dari tahun ke tahun sistem ujian nasional tersebut mengalami penyempurnaan atau tidak dihilangkan apalagi belum dilakukan evaluasi secara mendalam keberadaan sistem ujian nasional tersebut. Perubahan dan penyempurnaan tersebut dibenarkan oleh peraturan dan perundangan yang berlaku. Satuan pendidikan dapat melakukan seleksi dengan menggunakan instrument seleksi yang materinya tidak diujikan dalam ujian nasional, seperti: tes bakat skolastik, test inlegensi, tes minat, tes bakat, kesehatan, dan tes lainnya yang sesuai dengan kriteria satuan pendidikan. Memperhatikan dan mensikapi kemajuan bidang pendidikan di masa yang akan datang tidak mustahil sistem ujian nasional yang ada sekarang ini akan diganti demi penyempurnaan sistem ujian nasional itu sendiri, namun substansinya “melaksanakan ujian atau evaluasi sebagai sebuah subsistem pendidikan dan pembelajaran” tetap dipertahankan.

Baca lebih lanjut

KEKUASAAN KAUM PENDUSTA

Kekuasaan Kaum Pendusta

Oleh: Aswandi

ALLAH SWT tidak memberi petunjuk kepada orang yang melampaui batas dan pendusta atau pembohong, dikutip dari Q.S. Gafir:28. H.R. Baihaqi menerangkan, “Akhlak yang paling dibenci oleh Rasulullah Saw adalah kebiasaan berdusta atau berbohong”.

Ibnu Qayyim mengatakan bahwa dampak berdusta merusak cara mengetahui dan memahami suatu realitas, dan akhirnya merusak semua sendi kehidupan.

Setiap amal jahat; Kegelisahan, kecemasan, kegagalan dan kehancuran. baik lahir maupun batin sumbernya adalah kebohongan atau dusta. Baca lebih lanjut

PEMIMPIN PEMBOHONG

Pemimpin Berbohong

Oleh: Aswandi

 

BEBERAPA hari ini, ramai dibicarakan pemimpin telah berbohong (hoax), peristiwa tersebut membuat rakyat kecewa dan tidak simpatik terhadap pemimpin pembohong yang selama ini mereka kagumi. Penulis yakin sepandai-pandai pemimpin menutupi kebohongannya, pada akhirnya senang berbohong terungkap juga. Mereka lupa nasehat orang bijak, bahwa “Janganlah merasa hebat, Kita terlihat hebat karena Allah SWT menutup aib kita”. Kita ini manusia biasa, bergelimang dosa, sedikit saja aib kita terungkap, sudah tidak ada artinya lagi kita ini. Dari hari ke hari ditemukan semakin banyak pemimpin berbohong, bahkan tidak jarang diantara mereka yang saat ini belum kering keringatnya, belum lunas hutangnya, berjuang bersama-sama untuk terpilih menjadi pemimpin, Namun sangat disayangkan sesama pemimpin mereka mulai berdusta, mulai berbohong dan mulai sembunyi-sembunyi, tidak jarang saling menyalahkan. Baca lebih lanjut

BERHARAP PADA BALEHO

Berharap pada Baleho

Oleh: Aswandi

SEJAK dahulu hingga sekarang, setiap ada kegiatan pilkada dan pemilu, baleho merupakan satu diantara Alat Peraga Kampanye (APK) yang marak digunakan oleh peserta pemilu. Mereka yakin APK berupa Baleho memiliki daya pikat yang sangat kuat dan menjadi pundi perolehan suara. Sangat berbeda dari baleho yang dipajang oleh peserta pemilu di Jepang. Pada tahapan kampanye pemilihan Perdana Menteri, penulis amati tidak banyak baleho calon pemimpin dipajang, jikapun ada, baleho tersebut dibuat dari sehelai kertas HVS ukuran A4.

Baleho menggambarkan sebagian potret diri seorang peserta pemilu, berfungsi sebagai instrumen untuk memperkenalkan diri kepada konstituen atau pemilih dan masyarakat pada umumnya.

Baca lebih lanjut

Sambut 2019, Aswandi Luncurkan Enam Judul Buku Sekaligus

Sambut 2019, Aswandi Luncurkan Enam Judul Buku Sekaligus

Sumber : https://www.pontianakpost.co.id/sambut-2019-aswandi-luncurkan-enam-judul-buku-sekaligus

  Rabu, 9 January 2019 18:54

LUNCURKAN: Tokoh pendidikan Aswandi memperlihatkan enam buku yang baru saja diterbitkannya pada awal tahun ini. Total dia sudah menghasilkan 12 judul buku selama karir kepenulisannya.

PONTIANAK – Tokoh pendidikan Kalimantan Barat Dr Aswandi meluncurkan buku terbarunya pada awal tahun 2019 ini. Tidak hanya satu buku, melainkan enam judul sekaligus. Buku-buku tersebut sebagian besar berkutat pada isu pendidikan dan kepemimpinan. “Buku-buku ini adalah yang saya tulis sepanjang tahun 2018 dan diluncurkan bersamaan,” ujar orang yang juga berposisi sebagai Wakil Rektor Universitas Tanjungpura ini, kepada Pontianak Post, kemarin.

Keenam buku yang baru diluncurkan itu adalah; Kepemimpinan Berbasis Karakter, Pendidikan dan Perubahan, Manajemen Perubahan: Sebuah Pengantar, Pemimpin Bukan Manajer, Kapita Selekta Pendidikan I, dan Kapita Selekta Pendidikan II. Semuanya diterbitkan oleh Penerbit Rajawali Press di Jakarta. Harganya bervariasi antara Rp70.000 sampai Rp100 ribu per judul. Setiap judul rata-rata berisi 100-200an halaman.

Lantas mengapa dia bisa begitu produktif menulis buku. Menurutnya hal tersebut lantaran niatnya untuk terus menulis dan mendokumentasikan pikiran-pikirannya.

“Kalau dibilang menulis karena ada waktu luang, itu salah. Saya justru produktif ketika sedang sangat sibuk; sebagai wakil rektor, pengajar, dan sibuk dengan berbagai institusi serta organisasi di luar kampus,” jelas dia.

LUNCURKAN: Tokoh pendidikan Aswandi memperlihatkan enam buku yang baru saja diterbitkannya pada awal tahun ini. Total dia sudah menghasilkan 12 judul buku selama karir kepenulisannya.

Aswandi selalu menyempatkan diri untuk menulis. Dia selalu membawa sebuah buku catatan yang bisa digunakan bila sewaktu-waktu punya ide tulisan. Bahkan di dalam kamar mandi pun dia menulis. Sering saat sedang makan dia menulis. Atau saat rapat dan mengajar. Walau hanya beberapa kalimat. Menurutnya terkadang ide datang di tempat dan waktu yang tak terduga. Agar ide tersebut tidak menguap begitu saja, dia selalu membekali diri dengan pena dan buku tulis.

Kendati berlatar belakang akademisi dan peneliti, Aswandi sendiri memiliki gaya penulisan populer. Dia sendiri sudah terbiasa dengan gaya ini lantaran sudah bertahun-tahun menjadi kolumnis tetap di Pontianak Post dan berbagai media massa nasional dan lokal lainnya. Dunia kepenulisan buku sendiri bukan hal baru baginya. Total dia sudah memiliki 12 judul buku karangan sendiri. Termasuk otobiografinya.

Menulis buku bagi dia, memang hanya hobi dan tidak mengejar keuntungan semata. Namun dalam kepenulisan buku, Aswandi berusaha untuk menjangkau semua segmen pasar. Oleh sebab itu dia menggunakan gaya sederhana dengan pilihan kata yang dimengerti bayak orang. “Saya menulis dengan kalimat dan paragraf yang pendek-pendek. Karena buku yang habis dibaca orang biasanya seperti itu gayanya,” ungkap dia.

Tahun ini pun dia tidak ingin sama produktifnya dengan tahun lalu. Dia menargetkan pada bulan Mei nanti dia akan menerbitkan lima buku lagi. Bahkan saat ini dia sudah punya tiga draft buku yang akan segera diselesaikan. Bila pembaca tertarik untuk memiliki buku karangan Aswandi bisa menghubungi marketingnya, Sandra dengan nomor telepon 085251131187.

Lantas apa tujuannya menerbitkan buku? Aswandi mengatakan berdasarkan penelitian, dalam sehari manusia punya 60.000 pikiran. Sebanyak 80 persennya berisi hal negatif, sisanya positif. “Agar yang negatif tidak mendominasi, maka pikiran perlu dituntun ke hal positif. Caranya dengan menulis,” sebutnya. Selain itu, Sahabat Nabi Muhamad, Ali bin Abu Thalib mengajarkan untuk menulis buku. Begitu juga banyak pepatah bijak yang mengatakan, tulisan atau buku akan membuat nama dan pikiran seseorang abadi. “Orang bisa mati tetapi tulisan abadi,” sebutnya. (ars)

SISWA PENAKLUK KETERBATASAN

Siswa Penakluk Keterbatasan

Oleh: Aswandi

BELUM lama ini, diberitakan terdapat 24 (dua puluh empat) orang siswa tinggal di 4 (empat) gubuk tidak layak huni. Demi masa depan yang lebih baik, mereka taklukan sebagian dari keterbatasan mereka, mereka tidak menyerah dan tidak merasa dikalahkan oleh kesulitan hidupnya. Penulis sangat bangga kepada 24 siswa ini yang memiliki virus mental sukses (the need of success) dan bermental pendaki. Sebaliknya, tidak sedikit diantara mereka terdapat siswa yang bermental pekemah, mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan hidup sebagai akibat dari proses pendidikan dan pengasuhan yang keliru, yakni pendidikan dan pengasuhan dengan cara memanjakan peserta didik yang telah terbukti selalu berdampak negatif bagi tumbuh kembang anak tersebut.

Disampaikan ucapan terima kasih kepada bapak Sutarmidji selaku Gubernur Kalimantan Barat yang telah merespons secara cepat berita ini, beliau terjun langsung ke lokasi menemui siswa yang tinggal di gubuk yang tidak layak huni itu, penulis berharap apa yang dilakukan oleh bapak gubernur Kalbar menginspirasi kita semua, terutama menginspirasi para pejabat publik terutama yg berada di daerah ini.

Baca lebih lanjut

LANDASAN FILOSOFIS PENDIDIKAN

Landasan Filosofis Pendidikan

Oleh: Aswandi

FILSAFAT pendidikan merupakan isu esensial di bidang pendidikan. Ia memberikan jawaban atas pertanyaan apa hakikat pendidikan dan bagaimana mendidik yang sesungguhnya, dan lebih khusus apa dan bagaimana pembelajaran. Filsafat pendidikan memberikan arahan dan bimbingan dalam penyelenggaraan pendidikan dan pembelajaran yang benar dan yang baik. Sebuah asumsi, jika di suatu negara kualitas pendidikan adalah tinggi, maka dapat dipastikan penyelenggaraan pendidikan di negara tersebut berdiri di atas landasan atau pondasi filosofis pendidikan yang kuat, demikian sebaliknya.

Baca lebih lanjut

MALU PADA HAMBA SAHAYA

Malu pada Hamba Sahaya

Oleh: Aswandi

SIFAT malu termasuk karakteristik akhlaq mulia. “malu adalah bagian dari iman”, artinya rasa malu terkait erat dengan iman, iman bertambah dengan bertambahnya rasa malu, dan iman berkurang dengan berkurangnya rasa malu. “Jika engkau tidak mempunya rasa malu, berbuatlah sesukamu”, demikian sabda Rasulullah Saw.

Mahmud al-Mishri (2009) dalam bukunya “Mausu’ah  min Akhlaqir Rasul” mengutip pendapat Al-Jurjani, bahwa malu adalah tertekannya jiwa dari sesuatu dan berusaha meninggalkan sesuatu itu sebagai bentuk kewaspadaan dari celaan”.

Amr Khaled (2010) dalam kitabnya “Akhlaq al-Mu’min” mengatakan bahwa malu berasal dari kata “hayah” atau kehidupan. Karena itu, jika kita berkata “Orang itu Malu” bermakna sejauhmana hati itu hidup, sejauh itu pula kekuatan malu bersemanyam di hati dan kuat denyut kehidupan di dalam dirinya, dan malu menandai terkendalinya jiwa, yakni ia tidak bisa melakukan perbuatan tercela atau sesuatu yang buruk. Baca lebih lanjut

Judul Buku : “PEMIMPIN Bukan MANAJER”

Judul Buku : “PEMIMPIN Bukan MANAJER”

Oleh Aswandi

Tanyakan pada diri Anda sendiri pertanyaan ini : Apakah semua manajer adalah pemimpin? Beberapa dari Anda mungkin akan segera menjawab “iya” dengan asumsi keduanya saling terkait satu sama lain. Orang lain mungkin akan berpikir dua kali dan mengevaluasi kembali dengan membandingkan perilaku atasan mereka. Banyak dari Anda mungkin langsung menanggapi “tidak” untuk pertanyaan ini karena Anda telah mendengar tentang debat manajemen versus kepemimpinan di masa lalu dan sangat memahami bahwa kedua hal ini sebenarnya sangat berbeda. Baca lebih lanjut

Judul Buku : “KEPEMIMPINAN BERBASIS KARAKTER”

Judul Buku : “KEPEMIMPINAN BERBASIS KARAKTER”

Oleh : Aswandi

Pemimpin yang berkarakter kuat cerdas, disiplin, tegas, terbuka dan jujur adalah impian masyarakat Indonesia. Bangsa Indonesia memiliki banyak calon pemimpin yang berkarakter kuat. Hanya saja, kadang kala karakter yang dimilikinya bisa menjadi lenyap tak berdaya ketika dihadapkan pada kehidupan nyata di dunia (eksekutif, legislative, dan yudikatif), dimana kekuasaan dan uang menjadi tujuan utama. Baca lebih lanjut

Judul Buku : “PENDIDIKAN & PERUBAHAN”

Judul Buku : “PENDIDIKAN & PERUBAHAN”

Oleh : Aswandi

Kotter (1997) dalam bukunya “Leading Change” mengatakan bahwa, “Perubahan yang sukses melibatkan antara 70% hingga 90% kepemimpinan. Kurangnya kepemimpinan membuat tidak adanya kekuatan di dalam organisasi untuk mengatasi berbagai kekacauan dan ketidakpastian.”

Calon pemimpin perubahan, tidak sekedar mengetahui ciri-ciri perubahan, melainkan mampu mempengaruhi perilaku masyarakat yang hidup di era perubahan tersebut. Antara lain bercirikan : semakin cepat, semakin kompleks, saling tergantung atau interdependensi, tidak menentu atau tidak pasti dan disruptif. Baca lebih lanjut

MANAJEMEN PERUBAHAN : Sebuah Pengantar

Judul Buku “MANAJEMEN PERUBAHAN : Sebuah Pengantar”

Oleh Aswandi

Kehidupan mengajarkan kita agar selalu sabar dalam menghadapi kehidupan ini, misalnya : (1) ketika kerjamu tidak dihargai, maka saat itu kau sedang belajar tentang ketulusan, (2) ketika usahamu dinilai tidak penting, maka saat itukau sedang belajar keikhlasan, (3) ketika hatimu terluka sangat dalam, maka saat itu kau sedang belajar tentang memaafkan, (4) ketika kau harus lelah dan kecewa, maka saat itu kau sedang belajar tentang kesungguhan, (5) ketika kau merasa sepi dalam kesendirian, maka saat itu kau sedang belajar tentang ketangguhan, (6) ketika kau harus membayar sesuatu yang hampir tak terjangkau, maka saat itu kau sedang belajar tentang kemurah-hatian, (7) tetaplah semangat, tetaplah bersabar, tetaplah tersenyum, dan terus belajar, karena kau sedang menimba ilmu di Sekolah dan Universitas Kehidupan. Baca lebih lanjut

KEIKHLASAN KUNCI KEKUATAN

Keikhlasan Kunci Kekuatan

Oleh: Aswandi

 

ADA sebatang pohon yang disembah oleh manusia, di sana ada seorang mukmin ahli ibadah dari kalangan Bani Israil mengambil kampak untuk menebang pohon tersebut. Iblis menemuinya seraya berkata kepadanya, “Apa yang engkau inginkan?”. Laki-laki itu menjawab, “Aku ingin menebang pohon yang disembah itu”. Iblis berkata kepadanya, “Engkau tidak akan mampu menebangnya, aku mencegahmu untuk melakukan itu. Laki-laki itu memukul dan menjatuhkan Iblis tersebut ke tanah. Baca lebih lanjut

KALAH MELAWAN DIRINYA SENDIRI

Kalah Melawan Diri Sendiri

Oleh: Aswandi

KEHIDUPAN di dunia ini berpasang-pasangan: ada yang kalah dan ada yang menang, ada yang sukses dan ada yang gagal, demikian seterusnya.

Memahami fenomena kontradiktif tersebut, baik melalui bahan bacaan maupun dari pengamatan, penulis menyimpulkan bahwa menang atau kalah, sukses atau gagal tergantung pada diri sendiri. Sesuai judul opini di atas, penulis tegaskan bahwa kalah dan gagal itu lebih disebabkan oleh kekalahan dan kegagalan melawan dirinya sendiri.

Menjadi sangat beralasan ketika Jenderal Soedirman, seorang panglima TNI menunjukkan jalan keselamatan kepada kita melalui kalimat singkat ini, “Jika ingin selamat, bekalilah diri Anda dengan 10 (sepuluh) peluru. Satu peluru, Anda gunakan untuk menembak musuh, sementara 9 (sembilan) peluru Anda gunakan untuk menembak diri Anda sendiri”.

Baca lebih lanjut

MEMPOLISIKAN POLISI

Mempolisikan Polisi

Oleh: Aswandi

SEORANG polisi di negeri ini mengemban tugas; (1) memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat; (2) menegakkan hukum, dan (3) memberikan perlindungan, pengayoman, dan pelayanan kepada masyarakat (UU RI No.2/2002).

Osborne dan Gaebler (1995) dalam bukunya berjudul; “Reinventing Government” memandang perlu mendefinisikan kembali tugas polisi, yakni mengubah tugas polisi dari seorang penyelidik dan pelaksana menjadi seorang katalis (pemberi pelayanan secara SMART) dalam proses penyadaran masyarakat untuk menolong dirinya sendiri (community self-help), polisi akan menjadi sangat efektif jika mereka membantu masyarakat menolong diri mereka sendiri”. Baca lebih lanjut