Format Baru Seleksi Masuk Perguruan Tinggi

Format Baru Seleksi Masuk Perguruan Tinggi

Oleh: Aswandi

Perguruan tinggi dipandang sebagai sebuah sistem yang terdiri dari sub-sistem: input, proses, output, dan outcome. Kualitas ouput, outcome atau lulusan pendidikan tinggi ditentukan antara lain oleh input atau masukan calon mahasiswanya. Jadi intakes calon mahasiswa menjadi sangat penting dan strategis dalam peningkatan mutu Sumber Daya Manusia. Oleh karena itu, setiap tahunnya sistem Seleksi Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SMPTN) selalu dilakukan penyempurnaan atau perbaikan secara terus menerus mengalami perjalanan sejarah panjang dan berliku-liku.

Secara fundamental perjalanan di mulai pada tahun 1976, ketika lima perguruan tinggi yang tergabung dalam Sekretariat Kerjasama Antar Lima Universitas (SKALU) melakukan seleksi calon mahasiswa baru secara bersama. Kemudian sistem tersebut dikembangkan menjadi proyek perintis Sistem Penerimaan Mahasiswa Baru (Sipenmaru), Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri (UMPTN) , Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB) dan sejak tahun 2008 menjadi Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) dengan pola penerimaan melalui ujian tertulis dan kombinasi ujian tertulis dan ujian ketrampilan untuk program studi olah raga dan seni. Selanjutnya sejak tahun 2013, SNMPTN dikembangan menjadi dua pola yakni pola penerimaan melalui penelusuran kemampuan dan prestasi akademik yang tetap menggunakan nama SNMPTN sebagai sistem seleksi nasional dan pola seleksi melalui ujian tertulis  yaitu Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN). Baca lebih lanjut

PESERTA DIDIK PEMILIK MASA DEPAN

PESERTA DIDIK PEMILIK MASA DEPAN

Oleh: Aswandi

Rhenald Kazali (2017) dalam bukunya “Disruption” mengatakan bahwa masa depan adalah era disrupsi ini dicirikan setidaknya tiga karakterisik: (1) speed yakni bergerak cepat karena didukung teknologi; (2) surprises, yakni banyak kejutan yang terkadang tidak masuk rasional, misalnya siapa yang menyangka orang yang biasa-biasa saja justru dipilih rakyat menjadi pemimpin dan siapa menyangka anak drop out SMP berusia 26 tahun mencatatkan diriya sebagai orang kaya baru di Indonesia, siapa menyangka muncul telemedika dan wearable mengubah pelayanan medis; dan (3) sudden shift, yakni banyak hal mengalami pergeseran tiba-tiba, bukan menghilang. Baca lebih lanjut

Pendidikan Agama di Sekolah

Pendidikan Agama di Sekolah

Oleh: Aswandi

OPINI ini ditulis terinspirasi dari pemberitaan di media massa bahwa “telah terjadi diskriminasi pelajaran agama di Sekolah Menengah Pertama Negeri di Kota Pontianak”, dikutip dari Suara Pimred, 27 September 20118.

Permasalahan tersebut telah diantisipasi sejak lama, penulis mencatat sejak dikeluarkan Tap MPRS RI No. XXVII.MPRS/1966 yang kemuddian diperbaharui dengan Tap MPR No. V/MPR/1973 tentang keharusan pendidikan agama menjadi mata pelajaran di sekolah umum, mulai dari Sekolah Dasar (SD) hingga Perguruan Tinggi Negeri (PTN). Implementasi dari ketetapan tersebut, pendidikan agama yang dilaksanakan di sekolah di Indonesia umumnya hanya memberi informasi tentang suatu agama yang dianut oleh peserta didik yang jumlahnya mayoritas, sementara penganut agama yang jumlahnya minoritas sering kali tidak mengikuti dan/atau terpaksa mengikuti pendidikan agama yang tidak sesuai dengan agama yang dianutnya. Baca lebih lanjut

Pendidikan Berbasis Lingkungan

Pendidikan Berbasis Lingkungan

Oleh: Aswandi

DANIEL Goleman (2010) dalam bukunya ”Ecological Intellegence” mengingatkan akibat rendahnya kualitas kecerdasan ekologis tidak jarang harga tersembunyi dari barang yang dibeli merusak diri para pembelinya, baik kerusakan fisik maupun kerusakan psikologis, dan terjadi salah paham mengenai ”Green”, maksudnya apa yang diketahui dan dipahami sesuatu adalah hijau (green), ternyata hanyalah sebuah khayalan belaka atau hanya ilusi dan imitasi.

Baca lebih lanjut

Pembiaran Nepotisme

Pembiaran Nepotisme

Oleh: Aswandi

DIYAKINI bahwa: (1) penyelenggaraan negara mempunyai peranan yang sangat menentukan pencapaian cita-cita perjuangan bangsa mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur; dan (2) praktek korupsi, kolusi dan nepotisme dapat merusak sendi-sendi kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara serta membahayakan eksistensi negara.

Memperhatikan dua keyakinan tersebut di atas, pemerintah menetapkan sebuah Undang-Undang RI Nomor: 28/Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme.

Baca lebih lanjut

Kebahagiaan untuk Semua

Kebahagiaan untuk Semua

Oleh Aswandi

GILBERT (2007) dalam bukunya “Stumbling on Happiness” mengatakan bahwa kebahagiaan adalah sebuah kata yang umumnya digunakan untuk menunjukkan sebuah pengalaman dan bukan untuk perbuatan yang menyebabkannya. Dibagian lain, ia mengatakan orang sering tidak mendapatkan kebahagiaan karena mereka terlalu jauh memikirkan masa depannya, sementara mereka melalaikan berbahagia hidupnya pada hari ini. Mereka lupa sebuah pesan “Future is Now or Tomorrow is Today” Baca lebih lanjut

PESERTA DIDIK BEBAS NARKOBA MELALUI PENGUATAN PENDIDIKAN KARAKTER

PESERTA DIDIK BEBAS NARKOBA MELALUI PENGUATAN PENDIDIKAN KARAKTER

Oleh: Aswandi

 

KONSEP NARKOBA

NARKOBA adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman, baik sintetis maupun semi sintesis yang menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri, dan dapat menimbulkan ketergantungan. Sementara prekursor narkotika adalah zat atau bahan pemula atau bahan kimia yang dapat digunakan dalam pembuatan narkotika,

Menurut para pakar, narkotika adalah zat atau obat yang tidak enak untuk dikonsumsi. Jika tercampur ke dalam makanan dan minuman, ia tidak merubah rasa, kecuali bagi mereka penderita sakit jiwa, mengalami depresi mental serius, seperti teralienasi (terasing dari dirinya) dan spit of personality (kepribadian yang terpecah) ditandai al: gelisah, resah dan tidak bahagia, mereka yang sedang sakit jiwa tersebut sangat menikmati zat dan obat yang mengandung narkotika.

Untuk mengembalikan kesegaran tubuhnya dan kenikmatan jiwanya, mereka menyalahgunakan narkotika, jika tidak cepat direhabilitasi, maka mereka menjadi sangat tergantung kepada prekrusor dan narkotika tersebut dan sulit disembuhkan, menghabiskan banyak uang, dan menelan korban lainnya, bahkan ada yang menyayat-nyayat tubuhnya untuk mendapatkan darahnya yang telah tertular zat narkotika, dan kesaksian bapak Hendy selaku ketua Granat. Baca lebih lanjut

Bersama Memajukan Bangsa

Bersama Memajukan Bangsa

Oleh: Aswandi

AWAL tahun politik dimarakkan oleh sebuah slogan “#2019 Ganti Presiden”. Slogan tersebut menjadi judul sebuah lagu yang sangat popular, dinyanyikan secara bersama-sama oleh elit politik dan seniman ternama, tertulis di kaos, spanduk/baheho, gelang tangan dan asesoris lainnya, berlanjut dekralasi “#2019 Ganti Presiden” diselenggarakan oleh masyarakat di banyak tempat di wilayah Republik Indoesia, namun ada pula yang menolak deklarasi tersebut dikhawatirkan membuat suasana menjadi tidak kondusif berakibat terjadi benturan di mayarakat, pengkapan dan pengusiran terhadap mereka yang dinilai sebagai aktornya. Menurut penulis selama mengikuti prosedur dan ketentuan perundang-undangan yang berlaku semestinya event seperti itu tidak perlu ditolak atau dilarang, justru didukung, difasilitasi dan diatur secara tertib karena melalui evant dekrelasi tersebut memberi pembelajaran politik dan demokrasi yang bermakna.

Baca lebih lanjut

Pendidikan dan Kemerdekaan

Pendidikan dan Kemerdekaan

Oleh: Aswandi

PENDIDIKAN dan kemerdekaan adalah dua kata ibarat dua sisi mata uang. Dua kata tersebut memiliki hubungan simbiotik dimana yang satu dan lainnya saling tergantung.

Kemerdekaan Indonesia dipersiapkan jauh sebelum kemerdekaan  diproklamirkan oleh Soekarno dan Muhammad Hatta 17 Agustus 1945.  Persiapan menuju kemerdekaan bermula dari membangun nasionalisme atau lebih dikenal dengan sebutan “Kebangkitan Nasional 1908” yang digagas oleh kaum terpelajar, terutama STOVIA dan kesadaran berbangsa, bertanah air dan berbahasa yang satu, yakni Indonesia, lebih dikenal dengan sebutan “Sumpah Pemuda 1928” yang juga digagas oleh para pemuda dan kaum terpelajar. Ketika itu WR Supratman menggesek biolanya sembari menyanyikan sebuah lagu berjudul “Indonesia Raya” yang mengandung pesan “Kemerdekaan Inonesia”.

Sejarah mencatat, “dimasa perjuangan kemerdekaan tanah air, Indonesia adalah satu-satunya bangsa di dunia yang sewaktu masih dijajah berani mendirikan sekolah bersistem nasional berhadap-hadapan dengan sekolah kolonial Belanda. Sekolah nasional tersebut antara lain: Taman Siswa yang didirikan oleh Ki Hadjar Dewantara di Yogyakarta, Pada tahun 1926 Indonesische Nijverheid School didirikan oleh Muhammad Syafei di Kayutanam Sumatera Barat dan di tahun 1870 Normal School didirikan oleh Willem Iskandar di Tano Bato Tapanuli Selatan. Ini sedikit bukti bahwa pendidikan sejak awal, di saat bangsa ini sedang dijajah telah berusaha mendorong lahirnya kemerdekaan Indonesia. Semua lembaga pendidikan nasional tersebut secara esensial membelajarkan aneka pengetahuan yang dikemas dalam budaya nasional dan bermental perjuangan kemerdekaan”, dikutip dari Daoed Yoesoef (2018) dalam bukunya “Bangunlah Jiwanya Bangunlah Badannya”. Belakangan ini para pakar sependapat bahwa pendidikan merupakan pintu masuk bagi kemajuan sebuah bangsa, bangsa yang maju tentu saja bangsa yang merdeka. Dan sangat tepat dinyatakan bahwa kemerdekaan Indonnesia bertujuan antara lain mencerdaskan kehidupan bangsa, yakni kehidupan bangsa yang cerdas secara utuh, bukan hanya cerdas otaknya, melainkan juga cerdas jiwanya dan sehat raganya.

Baca lebih lanjut

ANTARA TAHU DAN BERBUAT

Antara Tahu dan Berbuat

Oleh: Aswandi

APA yang telah diketahui dan dipahami oleh seseorang tidak selalu dilakukannya, demikian sebaliknya apa yang dilakukannya sering kali diluar dari apa yang diketahui dan dipahaminya. Akibatnya kegiatan yang dilakukan menjadi kurang efektif dan efisien, tidak fokus dan tidak tepat sasaran. Faktanya, dari sejak kecil hingga berusia lanjut telah dan selalu diperkenalkan kepada kita tentang suatu hal, baik dan boleh dilakukan, tidak baik dan tidak boleh dilakukan, seperti larangan berbohong, dianjurkan bersikap jujur, tidak boleh sombong, melainkan bersikap rendah diri, pemaaf dan seterusnya. Di samping itu, di banyak waktu, kita sering berdoa, “Ya Allah, tunjukkanlah kepadaku sesuatu yang benar itu benar dan berikan kekuatan kepadaku untuk dapat melaksanakan kebenaran itu. Ya Allah, tunjukkan kepadaku yang salah itu salah dan berikan kekuatan kepadaku agar aku dapat menghindarinya”. Dalam kenyataannya sulit sekali melaksanakan kebenaran dan menghindari kesalahan sekalipun kita telah memahami dan menyadarinya. Sebuah pertanyaan yang selalu mengusik pikiran penulis, mengapa antara tahu dan berbuat itu jaraknya sangat jauh?. Suatu ketika Mahatma Gandhi mengatakan bahwa banyak pemimpin menganjurkan kepada rakyatnya dan kepada umat manusia agar menegakkan keadilan dan hak asasi manusia serta menghentikan kekerasan. Kenyataannya, banyak pelanggaran hak asasi manusia dan perilaku kekerasan itu justru dilakukan oleh para pemimpin yang menyerukan perihal kemanusiaan itu, sama halnya seorang pimpinan di negara ini menyatakan agar para karuptor dihukum mati, hanya berselang beberapa waktu, pemimpin tersebut ditangkap Operasi Tangkap Tangan (OTT) KPK karena menerima suap berupa uang yang jumlahnya tidak jauh lebih besar dari gajinya setiap bulan. Banyak contoh dalam hidup dan kehidupan ini yang membuktikan jauhnya jarak antara tahu dan berbuat.

Baca lebih lanjut

KALIMANTAN BARAT BARU

Kalimantan Barat Baru

Oleh: Aswandi

KOMISI Pemilihan Umum (KPU) Provinsi Kalimantan Barat secara resmi telah menetapkan hasil perhitungan perolehan suara calon Gubernur/Wakil Gubernur Kalimantan Barat Masa Bakti Tahun 2018-2023. Beberapa lembaga survei dan KPU menginformasikan hasil perhitungan suara tidak jauh berbeda, berarti lembaga survei tidak melakukan kejahatan akademik sebagaimana dituduhkan oleh mereka yang tidak paham etika dan metodologi survei. Hitung cepat lembaga survei dan KPU menyatakan bahwa pasangan calon gubernur/wakil gubernur Kalimantan Barat bapak Sutarmidji-Ria Norsan memperoleh suara jauh melebihi suara yang diperoleh dua pasang calon gubernur lainnya.

Di saat kualitas pilkada dan partisipasi pemilih meningkat, pesta demokrasi berjalan damai, jujur, langsung, terbebas dari rasa takut seperti sekarang ini, sebagian besar masyarakat Kalimantan Barat memberi dukungan kepada bapak Sutarmidji-Ria Norsan menjadi gubernur Kalimantan Barat lima tahun ke depan. Besarnya dukungan masyarakat terhadap beliau pertanda besarnya keinginan masyarakat agar provinsi ini mengalami perubahan dan kemajuan secara merata atau berkeadilan. Sudah saatnya, provinisi ini mengalami banyak perubahan atau kemajuan untuk mengejar ketinggalannya selama ini, Jika tidak mengalami perubahan maka provinsi ini akan mengalami kemunduran dan akan sulit untuk bangkit kembali.

Baca lebih lanjut

Pasca Memilih Pemimpin

Pasca Memilih Pemimpin

Oleh Aswandi

PEMILIHAN kepala daerah (Pilkada) serentak di 171 daerah telah dilakukan, alasan sesuatu hal di beberapa daerah dilaksanakan pemilihan ulang. Secara umum pesta demokrasi lima tahunan tersebut dinilai oleh banyak pihak berjalan efektif sebagaimana diharapkan. Setidaknya ada tiga refleks penting pasca memilih pemimpin dapat dipetik menjadi pembelajaran dari pelaksanaan pilkada tahun 2018 ini, baik bagi pihak yang menang, pihak yang kalah dan semua warga negara, yakni: (1) cerdas menerima hasil pemilihan; (2) membangun kembali kepercayaan publik; dan (3) strategi mempertahankan kemenangan. Tiga pelajaran penting tersebut penulis uraikan secara singkat berikut ini.

PERTAMA, Menang atau kalah adalah hal biasa dalam suatu pemilihan. Jika menang, jangan larut dalam euforia kemenangan, dan jika kalah, jangan pula larut dalam kesedihan. Sangat disayangkan, banyak calon pemimpin dan pendukungnya kurang cerdas dan kurang ikhlas menerima kekalahan, dan kekalahan tidak menjadi pembelajaran bermakna, akibatnya setiap kali berkompetisi berikutnya mereka selalu kalah.

Baca lebih lanjut

HIDUP ADALAH MEMILIH

Hidup adalah Memilih

Oleh: Aswandi

HIDUP adalah memilih, yakni proses pengambilan keputusan secara sadar (sengaja dan terencana), bebas (tanpa ada rasa takut dan bebas intimidasi) dan penuh rasa tanggung jawab.

Setiap pilihan yang kita buat menciptakan siapa diri kita sesungguhnya, dan setiap orang dapat belajar untuk membuat pilihan yang lebih baik, pilihan yang secara lebih akurat mencerminkan nilai terdalam kita dan sebagai hasilnya pilihan itu menopang dan memperkokoh warisan moral yang akan kita tingkatkan, demikian Shapiro (2005) dalam bukunya “Choosing the Right Thing”.

Baca lebih lanjut

LEBIH SEDIKIT LEBIH BAIK

Lebih Sedikit Lebih Baik

Oleh: Aswandi

FAKTA menunjukkan bahwa, dimasa lalu kita terbiasa menikmati hidup yang rileks dan seimbang dengan gaya hidup yang lebih santai, lebih banyak waktu luang bersama keluarga dan komitmen lebih besar untuk mereka (keluarga) dan teman-teman, di tempat kerja tidak saling sikut menyikut, menggunting dalam lipatan dan berdusta di antara kita. Selain perasaan kita lebih nyaman dan tenang, persaudaraan sosial diantara kita terasa lebih baik, lebih ramah terhadap orang lain tanpa diskriminasi atau tanpa membedakan suku, agama dan berbagai perbedaan lainnya diantara kita, tidak susah ketika melihat teman senang, demikian sebaliknya, ikut sedih ketika melihat teman kita susah, lebih sedikit stres atau depresi, lebih sedikit tergantung pada alkohol dan obat-obatan terlarang lainnya seperti narkoba. Dan lebih sedikit terjerumus karena godaan uang, kekuasaan dan wanita.

Sekarang sangat jauh berbeda, kita lebih mementingkan diri sendiri dan individualis, kita lebih sering khawatir atau takut`dan berusaha mati-matian demi mengejar elusi dan patamorgana rasa aman yang ternyata semakin jauh dari kita dan tidak jarang diantara kita teralienasi atau terasing dari dirinya sendiri dan mengalami split personality atau kepribadian yang terbelah. Kita mendengar lebih dari separuh (lebih dari 50% ) koruptor yang telah tertangkap oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) berpendidikan magister (S2) dan doktor (S3) dan belakang ini kita membaca dan mendengar radikalisme dan intoleransi merambah di kalangan sivitas akademika di perguruan tinggi.

Kita unggul secara material, namun kalah secara personal dan spiritual. Jika kita mengakui bahwa kehidupan modern sekarang ini telah berhasil dalam aspek materi, ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi kemajuan tersebut merenggut kehidupan kita yang sesungguhnya.

Apa sesungguhnya yang telah dan sedang terjadi di era kemajuan pesat teknologi dan peradaban selama ini?, dan mengapa kemajuan yang telah diusahakan tersebut tidak membuat manusia lebih bermartabat dan berakhlak mulia?.

Pareto, seorang ilmuan Yunani mencoba mengurai fenomena kontroversial tersebut di atas. Ia mengatakan bahwa manusia keliru dan telah gagal memahami makna hidupnya, misalnya ada asumsi yang menyatakan, “jika ingin sukses dan bahagia, maka kuasai atau miliki semua”. Prinsip hidup seperti itu menurutnya salah besar. Yang benar, jalani kehidupan ini atas prinsip Pareto, “Lebih sedikit lebih baik”. Makna yang sama, kecil adalah besar atau besar itu adalah kecil, sedikit adalah banyak atau banyak adalah sedikit, menghasilkan lebih banyak “dengan” lebih sedikit, dan seterusnya tergantung pada pemaknaan kita terhadap kehidupan ini.

Prinsip Pareto mengajarkan bahwa, observasi sekitas 80% hasil yang diperoleh diakibatkan oleh 20% atau sebagian kecil penyebabnya. Pada kenyataannya, cara terbaik untuk meraih capaian yang lebih banyak adalah dengan bertindak lebih sedikit. Lebih sedikit adalah lebih baik.

Survei dilakukan terhadap 100 orang dan mengelompokkan mereka menjadi dua kelompok, terdiri atas kelompok pertama 80 orang dan kelompok kedua 20 orang. Asumsi kita, kelompok dengan jumlah anggota 80 orang akan meraih hasil empat kali lebih banyak. Kenyataannya, dunia terbalik, kelompok yang terdiri 20 orang memberi hasil yang lebih baik dari pada yang dicapai oleh kelompok dengan anggota 80 orang. Selain itu, kelompok yang terdiri 20 orang selain memberi hasil atau capaian lebih baik, juga memberikan hasil empat kali lebih baik, dikutip dari dari Richard Kock (2018) dalam bukunya “Living The 80/20 Way”.

Fakta lainnya menunjukkan bahwa: (1) sebanyak 20 persen pelanggan suatu perusahaan umumnya berkontribusi pada lebih dari 80 persen keuntungan perusahaan; (2) kurang dari 20 persen bintang media mendominasi lebih dari 80 persen pemberitaan, dan lebih dari 80 persen buku yang terjual berasal hanya dari 20 persen penulis; (3) lebih dari 80 persen terobosan ilmiah dihasilkan oleh kurang dari 20 persen ilmuan, dan pada setiap zaman penemuan besar hanya berasal dari sejumlah kecil ilmuan. Dan hanya sekitar 4 persen artikel yang dimuat pada jurnah ilmiah bereputasi internasional terindeks yang disitasi (dikutip); (4) di Indonesia pada tahun 1985 jumlah penduduk keturuan Tionghoa kurang dari 3 persen populasi, namun mereka memiliki 70 persen kekayaan, hanya 1/3 dari populasi Malaysia, namun mereka mencapai 95 persen kekayaan di negara tersebut, Muhammad Yusus penerima hadiah Nobel Perdamaian dari Banglades menyatakan hal yang sama bahwa kekayaan dunia hanya dimiliki oleh segelintir orang saja; (5) dari 6.700 bahasa di dunia, hanya 1,5 persen digunakan oleh 90 persen penduduk dunia; dan (6) penduduk Amerika Serikat berkebangsaan Yahudi hanya sebesar 3 persen, faktanya hampir seluruh aspek kehidupan di negera paman Syam tersebut dikendalikan oleh zionis Yahudi, siapapun presidennya, pemerintahan Yahudi AS di bawah tanah lebih berkuasa.

Survei dan fakta tersebut di atas memberikan pemahaman kepada kita bahwa 20% sumber daya manusia, sumber daya alam, input ekonomi atau penyebab lain yang terukur akan membawa kita pada 80% hasil, output, ataupun efek.

Kelompok kecil dengan jumlah anggota sedikit mampu mengalahkan kelompok besar dengan jumlah anggota banyak karena kelompok kecil itu dikelola (manage) dengan baik atau dikelola secara efiktif dan efisien. Perang Badar yang terjadi di bulan Ramadhan dengan kekuatan 300 prajurit lagi sedang berpuasa dan memiliki persenjataan sekedarnya mampu mengalahkan musuh-musuh Islam yang kafir dan memiliki ribuan prajurit dilengkapi persenjataan perang yang lebih lengkap. Waren Buffet seorang `investor dunia menasehati kita, “Tidak perlu melakukan hal-hal luar biasa untuk mendapatkan hasil yang luar biasa”.

Mereka yang berkinerja tinggi bukanlah mereka yang cerdas dari pada yang lain, namun mereka yang mampu mengelola pikiran dan perasaannya, menggunakan cara berpikir yang benar, metode dan sumber daya manusia yang dahsyat.

Dua hal penting (kata kunci) yang harus dipahami dan dipraktekkan dalam kehidupan sukses yang membahagiakan berdasarkan prinsip Pareto, yakni: (1) pahami gagasan besarnya, temukakan esensi dari permasalahan yang sesungguhnya, jangan sebatas memahami gejala luarnya saja. Pendapat lain menegaskan bahwa suatu permasalahan dapat diselesaikan apabila didasarkan pada realitas yang sesungguhnya Seorang motivator dunia mengatakan, semua orang bisa mencapai keberhasilan, selama ia memulainya dari hasrat inti atau keinginan sesungguhnya. Arnold Toynbee seorang pakar sejarah menegaskan bahwa “keberhasilan, kemajuan, kemenangan dan sejenisnya sangat tergantung pada kemampuan merespons secara tepat dan cepat masalah dan tantangan yang dihadapinya”. Penulis sering mengatakan bahwa masalah utama kita dua tahun terakhir ini adalah masalah “Politik”, bukan berarti masalah lain tidak penting; (2) setelah ditemukan esensi masalah utamanya, selanjutnya kita harus lebih focus terhadap permasalahan tersebut. Misalnya, Jika diyakini bahwa masalah kita dua tahun ini adalah masalah politik, maka focus kita adalah bidang politik, diantaranya adalah “Konsolidasi Politik yang berkeadaban”. Apabila kita lalai dalam focus yang telah kita tetapkan itu, maka jangan mimpi menjadi pemenang dalam setiap konstelasi politik itu

Bersadarkan uraian di atas, penulis tegaskan bahwa jadilah kelompok kecil yang membuat perubahan besar, yakni kelompok kecil yang memahami esensi masalah atau masalah sesugguhnya dan kemudian lebih focus menyelesaikannya. Dan jangan membiasakan diri memandang kelompok minoritas adalah lemah, demikian sebaliknya jangan menganggap bahwa kelompok mayorias adalah kuat. Ingatlah bahwa kesalahan asumsi seringkali menjadi awal dari semua kesalahan, kegagalan dan kekalahan. Oleh karena, sekali lagi penulis ingatkan, pelajari setiap permasalahan dengan sungguh-sungguh, kemudian focuskan pikiran dan aktivitas pembaca untuk menyelesaikannya. Insyaalah (Penulis, Dosen FKIP UNTAN)

Melayu Cinta Damai, Bukan Penjajah

Baca lebih lanjut